Indahnya Taubat I

Keinginan hati yang kuat untuk saling ingat-mengingati antara sesama muslim  dan   teringat akan perkataan Ya A’rif bahawa ulama’ itu tidak peduli apakah karyanya akan dibaca atau tidak yang penting adalah dakwahnya sampai ke setiap lapisan masyarakat dan setiap relung hati yang mendengar dan membaca. Dengan harapan kisah-kisah teladan ini dapat memberikan kita siraman bagi jiwa yang gersang untuk memantapkan lagi imani dalam diri. Kita turut berharap agar setelah membaca kisah ini kita menjadi lebih santun dan sayang terhadap anak-anak dalam segala apa keadaan, serta dapat direnungkan pada bahagian dimana segala amal di dunia akan berubah menjadi jasad di hari kiamat. Jadi, seperti apakah jasad yang akan terbentuk di hari kiamat nanti oleh amalan-amalan kita??? Jadi disinilah sekarang dua kisah teladan tersebut.

Malik bin Dinar ra

Ia seorang Tabi’in, dan yang terkenal darinya ia selalu menangis sepanjang malam sambil berkata, “Ya Rabbku Engkau sendirilah yang tahu penghuni syurga dan penghuni neraka, lalu aku termasuk yang mana? Ya Allah jadikanlah aku penghuni syurga, jangan Kau jadikan aku dari penghuni neraka.”

Perhatikanlah ibadahnya! Inilah Malik bin Dinar. Tapi ia diawal hidupnya tidak memiliki ketaqwaan seperti ini. Ia berkata, “Aku memulai hidupku dengan sia-sia, banyak minum dan banyak berbuat maksiat. Aku berbuat zhalim pada manusia, aku makan hak orang lain, aku memakan riba, aku memukul manusia. Aku melakukan kezhaliman. Tiada maksiat yang tidak ku lakukan. Aku sangat fajir sehingga manusia menjauhiku.”

Apakah Malik bin Dinar seperti itu? Ya, dulu ia seperti itu. Lalu ia berkata, “Tetapi disuatu hari, aku ingin menikah dan memiliki anak. Maka akupun menikah dan isteriku melahirkan anak yang ku beri nama Fatimah. Aku sangat mencintainya. Setiap kali Fatimah bertambah besar, imanku bertambah dan maksiatku berkurang. Mungkin Fatimah tahu kalau aku memegang botol khamr, lalu ia mendekat padaku, sehingga aku menjauhkan botol itu darinya, sedang ia baru berusia dua tahun. Seakan Allah menjadikan dia berkelakuan sebegitu. Setiap kali Fatimah bertambah besar, iman ku pun bertambah. Dan semakin aku selangkah lebih dekat dengan Allah, maka aku sedikit demi sedikit semakin jauh dari maksiat, sehingga usia Fatimah genap tiga tahun.”

“Ketika usianya tiga tahun, ia meninggal dunia…” Maka hidupku berubah menjadi lebih buruk dari yang dulu. Aku belum memiliki kesabaran orang yang beriman yang menguatkanku menerima bala, sehingga syaitan mempermainkanku. Sampai datang suatu hari, maka ia berkata, “Mabuklah kau yang mana kau belum pernah mabuk seperti itu sebelumnya…” Maka aku pun ingin mabuk, ingin minum Khamr, sehingga aku minum sepanjang malam.

Lalu aku bermimpi yang menembus kesadaranku. Aku bermimpi melihat diriku pada hari kiamat. Ketika matahari menjadi gelap, lautan berubah menjadi api, bumi bergoncang, dan manusia berkumpul di hari kiamat, manusia berduyun-duyun, aku bersama manusia, aku mendengar ada yang menyeru, “Fulan bin Fulan kemarilah menghadap pada Yang Maha Kuasa.”

“Aku lihat wajah Fulan bin Fulan itu berubah menjadi hitam kerana ketakutan. Sehingga aku mendengar penyeru itu memanggil Malik bin Dinar. Manusia disekelilingku hilang, seakan tidak ada orang di bumi Mahsyar itu. Lalu aku melihat ular besar lagi ganas berjalan ke arahku sambil membuka mulutnya. Aku pun lari ketakutan, hingga aku menemukan laki-laki tua lagi lemah dan aku berkata, “Tolonglah aku dari ular itu.” Ia berkata, “Anakku, aku lemah, aku tidak bisa menolongmu, tetapi larilah ke arah ini mungkin kau akan selamat.”

“Aku pun lari ke arah yang ia tunjukkan. Ular berada dibelakangku, dan didepanku neraka. Maka aku pun berkata, ‘Apakah aku akan lari ular dan jatuh ke neraka?’ Aku pun segera kembali lari dan ular semakin mendekat, aku kembali kepada laki-laki lemah itu sambil berkata, ‘Selamatkan aku, tolonglah aku.’ Ia pun menangis kasihan pada keadaanku, lalu berkata, ‘Aku lemah seperti yang kau lihat, aku tidak mampu melakukan apa-apa, tetapi larilah ke gunung itu mungkin kau akan selamat.”

“Aku pun lari ke gunung dan ular akan menyambarku. Lalu aku lihat di puncak gunung itu anak-anak kecil, mereka berteriak, ‘Wahai Fatimah temuilah ayahandamu, temuilah ayahanda!’.”

“Aku pun tahu kalau itu anakku. Aku senang anakku yang meninggal di usia tiga tahun menolongku, mengambil tanganku dan mengusir ular itu dengan tangan kirinya, sedang aku seperti mayat akibat ketakutan. Lalu aku pun duduk di kamarku seperti aku duduk di dunia, dan ia berkata, ‘Wahai ayahandaku, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah…” (Al-Hadid: 16)”.

“Aku bertanya, ‘Wahai anakku, beritahulah padaku tentang ular itu!”. Ia menjawab, “Itu adalah amalmu yang buruk, kau besar-besarkan dan kembangkan sehingga hampir ia memakanmu. Bukankah kau tahu wahai ayahandaku, bahwa amal di dunia akan berubah menjadi jasad di hari kiamat?”

“Aku bertanya lagi, dan laki-laki lemah itu?” Dia lalu menjawab, “Itu adalah amal solehmu. Kau lemahkan dia sehingga dia menangis melihat keadaanmu dan ia tidak mampu melakukan sesuatu. Sekiranya kau tidak melahirkan aku dan aku mati ketika masih kecil tentu tidak ada yang bermanfaat bagimu..”

“Aku pun terbangun dari tidurku sambil berteriak, telah datang, wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala… telah datang, wahai Allah Yang Maha Berkuasa…”

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala…”

“Aku pun mandi dan keluar untuk menunaikan shalat Subuh, aku ingin bertaubat dan kembali pada Allah Azza wa Jalla.”

Dia bercerita lagi, “Ketika aku masuk masjid, sang Imam sedang membaca
…………………………………………………………………………………….

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah…” (Al - Hadid: 16)

Malik pun bertaubat hingga ia dikenal setiap hari duduk di depan masjid sambil berkata,

“Wahai hamba yang bermaksiat kembalilah pada majikanmu. Wahai hamba yang lalai kembalilah pada majikanmu. Wahai hamba yang lari, kembalilah pada majikanmu. Majikanmu menyerumu setiap malam dan siang hari sambil berkata,

“Siapa yang mendekat pada-Ku sejengkal, maka AKU akan mendekat padanya sehasta, lalu siapa yang mendekat pada-Ku sehasta, AKU akan mendekat padanya satu depa, dan siapa mendekat pada-Ku sambil berjalan, maka AKU akan mendekat padanya sambil berlari kecil…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersambung…

@ Abadikan diriku dalam hatimu, bukan pandanganmu

Fitrah Power - Tingkatkan Keupayaan Diri Anda


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

5 Responses to “Indahnya Taubat I”

  1. salam sayang untuk Abeen…semoga hidupmu dalam RahmatNya…amin.

    Suka baca cerita ni…

    akak pinjam citer Abeen ni yer. nak share ngan kengkawan…

  2. Wasalam ukhti hulwa. Rindunya sama sis adila. :em70: Tentang artikel berkenaan, ambillah saja untuk tatapan rohani. Artikel ini pun bukan hak ciptaan milik Abeen. :)

  3. salam..
    sy suka citer ni…
    bila nk sambung?

  4. Assalamualaikum, im newbie here…
    Love this story…

  5. Alaikumussalam kepada asrar dan Nur.

    Shukran jazillan atas kesudian anda berdua mengungjungi blog yang banyak kekurangannya.

    Tentang sambungan cerita ini, saya belum pasti lagi asrar. Insya-Allah jika ada rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dapatlah saya meletakkan sambungan cerita ini nanti. :em50:

Leave a Reply